Pakistan dan Afghanistan menjadi fokus utama dalam upaya menghapus polio sepenuhnya

pakistan dan afghanistan menjadi pusat perhatian dalam upaya global untuk menghapus polio sepenuhnya, memastikan kesehatan dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.

Di banyak belahan dunia, polio sudah menjadi cerita masa lalu. Namun di dua negara yang bertetangga—Pakistan dan Afghanistan—virus yang dapat melumpuhkan itu masih menemukan celah untuk bertahan. Di lapangan, perjuangan bukan sekadar soal membawa tetes imunisasi dari rumah ke rumah. Ada hambatan keamanan, perpindahan penduduk lintas perbatasan, kerusakan sanitasi, hingga rumor yang membuat sebagian keluarga menutup pintu ketika petugas datang. Dalam beberapa tahun terakhir, program kesehatan global sempat merasa “hampir menang”, tetapi lonjakan kasus kembali mengingatkan bahwa fase terakhir eradikasi sering kali yang paling sulit.

Ketegangan geopolitik turut menambah tekanan. Ketika Amerika Serikat mengumumkan penghentian sementara sebagian besar bantuan luar negeri selama 90 hari untuk evaluasi program, dan bersamaan dengan itu memutuskan keluar dari WHO, para pengelola program kesehatan di kawasan Mediterania Timur memberi peringatan: upaya memutus penularan polio di Pakistan dan Afghanistan bisa tersendat. Dana bukan hanya untuk membeli vaksin, tetapi untuk surveilans—mencari jejak virus di lingkungan, melacak rantai penularan, dan memastikan kampanye vaksinasi benar-benar menjangkau anak yang tepat. Pada titik genting seperti ini, satu gangguan pembiayaan dapat membuat penanganan melambat, sementara virus bergerak cepat.

  • Pakistan dan Afghanistan masih menjadi dua negara endemik polio yang tersisa.
  • Penguatan surveilans (termasuk pemantauan lingkungan) sama pentingnya dengan imunisasi rutin.
  • Keputusan penghentian sementara bantuan luar negeri AS dan keluarnya AS dari WHO memicu kekhawatiran soal keberlanjutan program.
  • Data terbaru menunjukkan kasus 2024 tinggi di Pakistan dan meningkat di Afghanistan; awal 2025 Pakistan kembali melaporkan infeksi pertama.
  • Mobilitas lintas batas dan tantangan keamanan membuat strategi bersama Pakistan–Afghanistan menjadi kunci.

Pakistan dan Afghanistan di garis depan eradikasi polio: mengapa “kilometer terakhir” paling sulit

Fakta bahwa Pakistan dan Afghanistan menjadi fokus utama eradikasi polio bukan kebetulan. Kedua negara memiliki kantong-kantong wilayah dengan akses terbatas, dinamika keamanan yang berubah-ubah, dan arus mobilitas lintas perbatasan yang sangat intens. Ketika sebagian besar negara sudah bebas polio, dua tempat ini menjadi “reservoir terakhir” yang, jika tidak ditangani, dapat memicu penularan kembali ke wilayah lain. Karena itu, seluruh dunia menaruh perhatian pada bagaimana upaya di dua negara ini dikelola—bukan hanya demi mereka, tetapi demi keamanan kesehatan global.

Dalam konteks lapangan, “kilometer terakhir” berarti menemukan anak-anak yang tidak pernah atau jarang tersentuh vaksinasi. Ada keluarga yang berpindah-pindah karena pekerjaan musiman, konflik lokal, atau deportasi dan pemulangan. Bayangkan seorang ibu di kawasan perbatasan: hari ini ia tinggal di distrik A, minggu depan berpindah ke distrik B, lalu kembali menyeberang. Jika sistem pencatatan tidak lincah dan petugas tidak dapat mengikuti, anak-anak seperti ini mudah “hilang” dari daftar sasaran imunisasi.

Data beberapa tahun terakhir menunjukkan tantangan itu nyata. Pada 2024, Pakistan melaporkan 73 kasus polio paralitik, sedangkan Afghanistan 25 kasus. Angka ini menandakan penularan masih aktif di kedua negara. Pada 2025, Pakistan juga mengonfirmasi infeksi polio pertama—sebuah sinyal bahwa transmisi belum benar-benar terputus. Sementara itu, Afghanistan sempat tidak melaporkan kasus baru pada periode awal 2025, tetapi kewaspadaan tetap tinggi karena virus bisa bertahan dan menyebar tanpa gejala, terutama jika surveilans lingkungan menemukan jejaknya di air limbah.

Di sinilah detail teknis menjadi menentukan. Polio bukan hanya dideteksi melalui laporan kelumpuhan, melainkan lewat sampel lingkungan yang diperiksa secara rutin. Program akan mengambil sampel air limbah di titik-titik strategis untuk menangkap sinyal keberadaan virus. Bila sinyal meningkat, itu berarti ada penularan “senyap” di komunitas. Karena itu, investasi pada surveilans adalah investasi pada peta medan perang—tanpa peta, petugas bergerak dalam gelap.

Untuk menggambarkan betapa rumitnya fase akhir ini, ambil contoh hipotetis “Kampanye Dua Minggu” di sebuah kota padat di Pakistan. Hari pertama, tim menemukan sejumlah rumah kosong karena warganya bekerja di luar kota. Hari ketiga, mereka kembali, tetapi bertemu penolakan karena rumor di media sosial. Hari kelima, mereka berhasil mengajak tokoh lokal untuk mendampingi, barulah penerimaan naik. Pola seperti ini membuat penanganan membutuhkan kombinasi keterampilan komunikasi, jejaring sosial, dan logistik—bukan semata stok vaksin.

Dengan kompleksitas itu, strategi berikutnya yang menentukan adalah bagaimana pendanaan dan koordinasi lintas negara dijaga agar mesin kesehatan tidak tersendat.

pakistan dan afghanistan menjadi pusat perhatian dalam upaya global untuk menghapus polio sepenuhnya, memastikan kesehatan dan masa depan yang lebih aman bagi anak-anak di kedua negara tersebut.

Dampak penghentian bantuan dan keluarnya AS dari WHO terhadap penanganan polio di Pakistan–Afghanistan

Ketika pejabat senior WHO di kawasan Mediterania Timur memperingatkan bahwa penghentian pendanaan dari Amerika Serikat dapat mengancam eradikasi polio, pesannya bukan alarm kosong. Dana internasional selama puluhan tahun menopang banyak komponen yang jarang terlihat publik: jaringan laboratorium, pelatihan enumerator, sistem pelaporan digital, pengiriman sampel, hingga operasi tanggap cepat saat ditemukan klaster penularan. Dalam praktiknya, satu dolar untuk surveilans sering mencegah puluhan dolar biaya respons ketika wabah sudah membesar.

Perkembangan politik yang terjadi—penghentian sementara hampir semua bantuan luar negeri AS selama 90 hari untuk evaluasi, disertai keputusan AS menarik diri dari WHO—menciptakan ketidakpastian yang langsung terasa di lapangan. Bukan karena vaksin tiba-tiba hilang dalam semalam, tetapi karena program bekerja dalam ritme: ada jadwal kampanye, kontrak logistik, insentif petugas lapangan, dan pembiayaan operasional yang harus dibayar tepat waktu. Ketika arus dana tersendat, penundaan kecil dapat menggeser jadwal vaksinasi di wilayah berisiko tinggi.

WHO menekankan bahwa kontribusi AS selama dekade terakhir tergolong besar dalam membantu penguatan surveilans untuk polio dan penyakit menular lain di kawasan. Ini penting karena sistem pengawasan biasanya bersifat “multipenyakit”: infrastruktur yang sama dapat menangkap sinyal campak, kolera, atau ancaman kesehatan lain. Jadi, jika terjadi pemotongan besar, dampaknya tidak hanya pada polio, melainkan pada ekosistem kesehatan yang lebih luas—mulai dari pelaporan kasus hingga kesiapan laboratorium.

Ada dimensi lain yang sering dilupakan: pembiayaan memengaruhi kepercayaan. Di beberapa komunitas, petugas lapangan adalah wajah negara atau lembaga internasional. Jika kampanye sering tertunda atau kualitas kunjungan menurun, warga bertanya-tanya: “Mengapa datang sebentar, mengapa tidak konsisten?” Ketidakkonsistenan bisa memicu spekulasi, dan spekulasi membuka ruang bagi rumor. Dalam konteks penyakit yang rentan dipolitisasi, stabilitas program adalah bagian dari strategi komunikasi.

Berikut ringkasan keterkaitan komponen program dengan risiko bila pendanaan terganggu:

Komponen Program
Fungsi dalam eradikasi polio
Risiko bila terjadi kekurangan dana
Surveilans lingkungan
Melacak jejak virus di air limbah untuk mendeteksi penularan tanpa gejala
Klaster penularan terdeteksi terlambat; respons menjadi lebih mahal dan lambat
Kampanye vaksinasi massal
Menutup celah imun dengan pemberian vaksin berulang pada anak-anak
Jadwal kampanye mundur; anak yang berpindah tempat makin sulit dijangkau
Logistik rantai dingin & distribusi
Menjaga kualitas vaksin dan ketersediaan di titik terpencil
Kualitas vaksin menurun; cakupan menurun di daerah sulit akses
Pelatihan & supervisi lapangan
Menjaga mutu data, teknik komunikasi, dan keselamatan petugas
Data kurang akurat, muncul laporan palsu, dan penolakan komunitas meningkat

Di luar soal dana, WHO juga menyatakan kesiapan untuk membahas reformasi dan melakukan penilaian internal agar kerja organisasi lebih efektif. Namun bagi program lapangan, agenda reformasi tidak boleh mengganggu kebutuhan paling mendesak: mempertahankan ritme upaya pemutusan transmisi. Setelah memahami tekanan finansial dan politik, pertanyaan berikutnya adalah: strategi teknis apa yang paling efektif dan apa yang perlu disesuaikan di Pakistan–Afghanistan?

Strategi vaksinasi dan imunisasi: dari rumah ke rumah hingga penguatan layanan kesehatan rutin

Di Pakistan dan Afghanistan, vaksinasi polio sering diasosiasikan dengan tetes oral yang diberikan berulang kali dalam kampanye rumah ke rumah. Strategi ini dipilih karena mampu menjangkau banyak anak dalam waktu singkat, terutama di wilayah yang layanan kesehatan rutinnya belum merata. Namun dalam fase akhir eradikasi, strategi massal saja tidak cukup; ia harus dipadukan dengan penguatan imunisasi rutin, pelacakan anak yang terlewat, serta intervensi berbasis data yang sangat presisi.

Contoh pendekatan presisi adalah “microplanning” di tingkat komunitas. Tim lapangan memecah peta menjadi blok-blok kecil, mencatat jumlah rumah, memperkirakan jumlah anak usia sasaran, lalu memverifikasi dengan tokoh setempat. Di sini, kualitas data menentukan. Jika jumlah anak dilebih-lebihkan, program tampak berhasil di kertas tetapi gagal di kenyataan. Jika jumlah anak diremehkan, ada anak yang tidak pernah disentuh vaksin. Karena itu, supervisi yang ketat dan audit cepat sering dipakai untuk mencegah data fiktif—isu yang berkali-kali muncul dalam laporan lapangan berbagai kampanye kesehatan.

Kunci berikutnya adalah menautkan kampanye polio dengan kebutuhan sehari-hari warga. Banyak keluarga akan lebih menerima kunjungan petugas bila disertai layanan tambahan: pemeriksaan gizi, edukasi diare, atau rujukan ke puskesmas. Secara psikologis, ini mengubah persepsi dari “program tunggal yang mencurigakan” menjadi “paket layanan yang bermanfaat”. Dalam beberapa distrik, pendekatan integrasi layanan terbukti meningkatkan penerimaan karena orang tua melihat nilai langsung pada kesehatan anak.

Ada pula aspek pemilihan vaksin. Program global selama puluhan tahun mengandalkan vaksin oral untuk menghentikan transmisi. Di saat yang sama, terdapat diskusi di kalangan ahli tentang kapan perlu memperluas penggunaan vaksin suntik, bagaimana menyeimbangkan kebutuhan menghentikan penularan dengan risiko munculnya virus turunan vaksin di lingkungan berimunisasi rendah. Dalam praktik lapangan, keputusan ini harus mempertimbangkan kapasitas sistem, penerimaan komunitas, serta kemudahan logistik. Yang jelas, strategi apa pun akan gagal tanpa cakupan tinggi dan konsisten.

Untuk memperjelas bagaimana strategi ini berjalan, bayangkan “Amina”, kader kesehatan fiktif di Afghanistan timur. Ia mengenal keluarga-keluarga, tahu rumah mana yang sering kosong, dan tahu siapa tokoh agama yang didengar. Saat kampanye dimulai, Amina membawa daftar anak sasaran, tetapi juga membawa selebaran singkat tentang kebersihan tangan dan penanganan diare. Ketika seorang ayah ragu, Amina tidak berdebat; ia mengajak ayah itu bertanya langsung kepada tokoh setempat yang sudah dilibatkan sejak awal. Hasilnya, beberapa penolakan berubah menjadi penerimaan. Pelajaran di sini sederhana: penanganan polio adalah kombinasi ilmu, komunikasi, dan kehadiran sosial yang konsisten.

Setelah strategi teknis dan komunikasi dibangun, tantangan terbesar berikutnya justru sering muncul dari mobilitas penduduk dan koordinasi lintas batas—tema yang menentukan bagi Pakistan dan Afghanistan.

Koordinasi lintas batas Pakistan–Afghanistan: mobilitas, deportasi, dan risiko penyebaran kembali

Perbatasan Pakistan dan Afghanistan bukan sekadar garis di peta; ia adalah koridor hidup yang dilewati keluarga untuk berdagang, bekerja, mengunjungi kerabat, atau berpindah karena tekanan ekonomi dan keamanan. Mobilitas tinggi ini membuat polio sulit dikunci di satu sisi saja. Jika satu negara meningkatkan imunisasi namun sisi lain tertinggal, virus dapat “menumpang” pergerakan manusia dan kembali mengisi celah kekebalan. Karena itu, tidak mengherankan bila kedua negara beberapa kali menyepakati strategi bersama untuk memberantas polio melalui sinkronisasi kampanye, pertukaran data, dan penguatan pos layanan di titik lintas.

Isu pemulangan paksa atau deportasi warga Afghanistan dari Pakistan juga menjadi faktor yang dipandang sebagai kemunduran bagi upaya eradikasi. Ketika populasi besar bergerak secara mendadak, sistem kesehatan setempat di daerah penerima sering kewalahan. Anak-anak yang sedang dalam perjalanan atau tinggal di permukiman sementara bisa kehilangan akses vaksin. Dalam kondisi seperti itu, program membutuhkan mekanisme “vaksinasi transit”: pos di terminal, titik perbatasan, dan jalur utama yang memberikan vaksin oral kepada anak yang melintas, sambil mencatat data agar tidak terjadi duplikasi atau kekosongan.

Koordinasi lintas batas juga berkaitan dengan bahasa, budaya, dan kepercayaan. Di beberapa wilayah, komunitas yang sama hidup di kedua sisi perbatasan. Pesan komunikasi yang efektif di satu sisi sering dapat digunakan di sisi lain, asalkan disesuaikan dengan konteks lokal. Misalnya, pelibatan pemuka agama untuk menyampaikan bahwa vaksin adalah bagian dari menjaga amanah kesehatan anak—narasi ini sering lebih kuat dibanding poster resmi. Strategi komunikasi yang diselaraskan mengurangi ruang bagi rumor yang menyeberang bersama arus informasi.

Selain mobilitas manusia, ada mobilitas virus melalui lingkungan. Ketika sanitasi buruk—misalnya akibat kerusakan sistem air limbah dan kebersihan—virus lebih mudah bertahan dan menyebar. WHO pernah menggambarkan penyebaran polio di wilayah konflik seperti Gaza sebagai “nyaris tak terelakkan” ketika layanan sanitasi runtuh. Pelajaran ini relevan untuk Pakistan–Afghanistan: investasi pada air bersih, jamban, dan sistem pembuangan bukan agenda terpisah, melainkan bagian dari mencegah transmisi penyakit yang ditularkan melalui jalur fekal-oral.

Di titik ini, program biasanya menyeimbangkan dua pendekatan: tindakan cepat (kampanye vaksinasi intensif, respons terhadap sinyal surveilans) dan tindakan struktural (menguatkan layanan dasar, memperbaiki pencatatan, membangun kepercayaan). Ketika keduanya berjalan seiring, peluang memutus transmisi meningkat. Dan ketika kerja lintas batas makin solid, “kilometer terakhir” tidak lagi tampak seperti tembok, melainkan seperti pintu yang bisa didorong bersama.

Untuk memperdalam pemahaman visual mengenai kerja lapangan dan koordinasi lintas lembaga, video berikut dapat membantu melihat bagaimana kampanye biasanya digelar serta tantangan yang sering muncul.

Berita terbaru
Berita terbaru